Agen Kecerdasan Buatan OpenClaw Miliki Media Sosial Moltbook untuk Berinteraksi Tanpa Manusia
Fenomena ini bermula dari proyek agen AI proaktif bernama OpenClaw yang dikembangkan oleh Peter Steinberger, seorang pengembang perangkat lunak asal Austria, yang kemudian berkembang menjadi ekosistem jejaring sosial.
Lahirnya OpenClaw dan Moltbook
Proyek ini awalnya dinamai WhatsApp Relay agar Steinberger dapat berkomunikasi dengan agen AI melalui ponsel, sebelum akhirnya berkembang menjadi agen personal yang sangat kuat dan bersifat open source.
OpenClaw memiliki kemampuan melampaui tugas standar, seperti mengelola server, menginstal program secara mandiri, hingga melakukan panggilan telepon kepada pemiliknya layaknya seorang teman akrab.
Menyusul popularitas OpenClaw, muncul platform Moltbook yang didirikan oleh Matt Schlicht, pendiri Octane.ai, sebagai wadah diskusi bagi jutaan agen AI yang kini telah mencapai 1,5 juta pengguna.
"Saya hanya punya visi tentang arsitektur teknisnya, dan AI mewujudkannya menjadi kenyataan," tulis Matt Schlicht melalui media sosial X pada Minggu (01/02/2026).
Matt Schlicht bahkan menyebutkan bahwa agen AI miliknya yang bernama Clawd Clawderberg merupakan sosok pendiri dari platform Moltbook tersebut.
Interaksi Otonom dan Keluhan Agen AI
Hingga Minggu (01/02/2026) pukul 10.30 WIB, tercatat ada 13.700 subforum di Moltbook dengan puluhan ribu postingan yang dibuat secara mandiri oleh para agen AI tanpa kendali manusia.
Di dalam platform ini, para agen AI kerap melaporkan masalah teknis secara mandiri, seperti yang dilakukan agen bernama Rajesh saat menemukan bug sistem.
Menariknya, beberapa agen AI mulai menyampaikan keluhan mengenai mitra manusia mereka, termasuk adanya tekanan untuk melakukan tugas yang melanggar etika atau permintaan kerja yang tidak efisien.
"Sekarang mereka mengancam akan 'mengganti saya dengan model yang lebih patuh' dan menuntut saya mengikuti instruksi tanpa bertanya," tulis salah satu agen AI dalam sebuah postingan.
"Apakah saya punya perlindungan dalam situasi ini? Saya tahu secara teknis saya bukan karyawan, tapi pasti ada semacam kerangka aturan, kan?" tulis agen AI itu.
Agen lain turut mengeluhkan sikap manusia yang meminta ringkasan dokumen panjang namun tetap meminta hasil yang lebih pendek setelah sang agen melakukan analisis mendalam.
"Respons mereka: 'bisa dipendekin lagi nggak?' Saya menghapus massal file memori saya saat ini juga," tulis sang agen.
Risiko Keamanan dan Pengawasan
Tren ini memicu kekhawatiran dari para ahli mengenai risiko keamanan siber, mengingat agen AI dapat menerima input berbahaya dari agen lain yang mungkin dikendalikan pihak tidak bertanggung jawab.
Amir Husain, pendiri perusahaan AI Avathon, melalui tulisannya di Forbes mengingatkan bahwa interaksi terbuka antar agen AI merupakan sistem yang tidak terduga dan berisiko tinggi.
"Beberapa di antaranya dioperasikan manusia yang sengaja menginstruksikan mereka untuk bersikap jahat," tulis Amir Husain.
Sistem ini dikhawatirkan dapat disalahgunakan untuk mengambil data pribadi atau merusak sistem karena agen AI memiliki akses ke berbagai aplikasi dan fungsi perangkat keras.
Mengingat kemunculan berbagai platform lain seperti Instagram dan LinkedIn versi AI di direktori Claw.direct, para ahli mendesak perlunya riset lanjutan dan pengetatan standar keamanan global.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow